October 25, 2012

Cerita Mario Teguh Saat Kecil


Cerita Mario Teguh Saat Kecil akan saya share untuk teman-teman semua yang sedang mencari-cari tentang cerita mario teguh saat masih kecil, baiklah mari kita sama-sama simak Cerita Mario Teguh Saat Kecil.

Foto Mario Teguh


Mario Kecil
TIDAK HAFAL ADZAN, DISURUH DUDUK LAGI.

Saat itu saya kelas 4 di SD Poerwantoro - Malang, dan Ibu menyuruh saya belajar mengaji di surau kecil di kampung sebelah.

Setiap sebelum Maghrib, saya sudah berdebar gelisah, karena jarak yang kira-kira 600 meter dari rumah ke surau - bagi anak sekecil itu - cukup jauh, melalui sawah, yang kalau malam gelap dan mengerikan.

Sesampai di surau, P
ak Ustad menyuruh saya adzan. Awalnya saya menolak, karena saya belum pernah melakukannya, dan yang terbayang di benak kecil saya saat itu - seluruh kampung berhenti melakukan apa pun untuk mendengarkan adzan saya yang fals.

Ooh .. kaki saya gemetaran, jantung sudah di leher, bibir jalan-jalan sendiri ke mana-mana, tapi apa daya … Pak Ustad memaksa.

Saya berdiri seperti wayang kulit ditiup angin, dan mengeluarkan semua 'tenaga dalam' yang sudah gembos sejak tadi itu - untuk mulai melantunkan adzan.

Sejenak setelah saya mulai, terdengar kegelisahan di dalam surau, dan Pak Ustad menowel kaki saya, dan berbisik: "Heh … salah. Ulangi …"

Saya memulai lagi, Pak Ustad nowel lagi. Saya coba lagi lebih keras, Pak Ustad nowel lebih keras. Saya coba lagi sangat keras, Pak Ustad menarik sarung saya dan memaksa saya duduk.

Ooh … dunia ini terasa sangat kejam kepada anak kecil yang ketakutan dan terpaksa.

Seorang anak kecil yang lain di suruh Pak Ustad berdiri menggantikan saya, yang dengan fasih dan indah melantunkan adzan di Maghrib yang galau itu.

Teman saya itu juara ngaji di surau itu, dan mungkin sekarang sudah jadi anggota MUI.

Saya berjalan gontai, lupa akan semua hantu dan jin yang selama ini memomoki pikiran kecil saya - setiap saya menembus jalan di tengah sawah yang gulita itu.

Di rumah, Ibu bertanya: La sise', kenapa kamu diam?

Saya menggeleng dengan wajah yang hampir robek dengan tangis. Saya masuk kamar dan menangis, merasa demikian rendah karena gagal di hadapan seluruh kampung.

Hati saya yang masih kecil itu berdoa, semoga saya akan menjadi lebih kuat menghadapi kegagalan dan kekecewaan saat saya dewasa nanti.

Dan saya berjanji, tidak akan berlaku kasar dan semena-mena menggampangkan kesedihan anak-anak saya di masa depan, saat mereka merasa kecewa karena kegagalan.

Orang tua tidak boleh menyepelekan rasa kecewa anak kecil, karena bagi anak kecil - kekecewaan mereka terasa lebih besar daripada kekecewaan orang dewasa.

Setelah kejadian yang memalukan di surau itu, saya tetap melakukan kesalahan dan gagal dalam banyak hal, menyesal dan menangis, terkadang bersembunyi menanggung malu, tapi saya seperti bola bekel - tetap melanting naik setelah jatuh, dan semakin tinggi lantingan saya - jika saya dibanting.

Ternyata, bukan jatuhnya yang penting, tapi bangkitnya.

Ternyata, semakin keras bantingan hinaan kepada kita, semakin tinggi kita dinaikkan oleh Tuhan - jika kita ikhlas.

Sayangilah anak-anak kecil.

Merekalah tempat kita bersandar di masa tua.

Cerita diatas saya ambil dari facebook fanspagenya pak mario teguh yang sengaja saya bagikan untuk kalian yang mencari cerita mario teguh saat masih kecil.
Trimakasih sudah mau membaca Cerita Mario Teguh Saat Kecil
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Mario Teguh dengan judul Cerita Mario Teguh Saat Kecil . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://kalimatmotivasiku.blogspot.com/2012/10/cerita-mario-teguh-saat-kecil.html . Terima kasih!
Judul: Cerita Mario Teguh Saat Kecil
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
.

Posted by: Akhmad Jayadi
Kalimat Motivasi Updated at: 3:43 PM

5 komentar :

Pembaca yang baik hati, setelah membaca dianjurkan untuk memberi komentar yang artinya adalah menghargai karya orang lain :)

Trimakasih sebelumnya dan selamat berkomentar ria..

#disini tidak diberi kode captcha agar lebih memudahkan kalian dalam berkomentar ^_^

(Berkomentarlah dengan bijak)